Hallo, apa kabar?
hmmm, agaknya sudah lumayan lama gw gak meninggalkan jejak jemari di blog ini. Jujur gw kangen dan merasa bersalah. Semenjak platform instagram menyediakan segala fitur yang dirasa cukup, gw lebih banyak menghabiskan waktu untuk instagram. Dari platform tersebut gw juga banyak banget nemuin inspirasi ide-ide kreatif. Apapun bisa kita temui di platform tersebut. Mulai dari feeds, instastories, IGTV dan dengan segala tools mobile app yang mendukung kemampuan kreativitas kita.
Tapi gw sadar, gw perlu tempat untuk menyimpan hal-hal yang dapat dijadikan portofolio gw. Dan gw merasa instagram ga cukup untuk menampung portofolio itu. Tadinya gw mau mencari platform lain yang rekomen untuk menyimpan portofolio. Hmmm, tapi setelah gw pikir-pikir, kenapa enggak manfaatin blog sendiri untuk jadi fasilitas penyimpan portofolio?
So, blog ini akan jadi tempat terbaik untuk penyimpan hal-hal yang berharga dalam hardisk gw. :')
Menghabiskan waktu di akhir pekan tak ada salahnya mencoba KA Bandara yang sudah mulai beroperasi sejak tanggal 26 Desember 2017 lalu. Cukup dengan Rp. 30 ribu kita sudah bisa menikmati perjalanan menuju Bandara Soetta. Hal ini tentu juga dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat yang sekedar menghilangkan rasa penasaran dengan fasilitas KA Bandara. Terbukti rata-rata penumpang KA yang saya temui adalah mereka yang tidak berpergian jauh dan menjadikan KA Bandara sebagai fasilitas rekreasi akhir pekan bersama teman atau keluarga. (mungkin karena masih harga promo kali ya...)
Untuk pemesanan tiket KA Bandara Soetta, kita bisa melakukan transaksi pembelian tiket melalui aplikasi Railink di smartphone, via website KA Railink, atau bias on the spot dengan menggunakan Vending machine.
Nah, kalo gw kemarin mencoba melakukan booking via aplikasi Railink yang udah gw download sebelumnya. Cukup praktis, karena hanya dengan melakukan pembayaran via banking, tiket kereta sudah dalam genggaman. Barcode yang kita terima via email juga sudah langsung bisa digunakan sebagai boarding pass, jadi ga perlu antri lagi untuk mncetak tiket. xixixi
Memilih jadwal kereta jam10.51 pagi dari Stasiun BNI City, membuat gw memiliki waktu lebih untuk mengelilingi interior Stasiun yang baru selesai di bangun ini. Kesan pertama masuk Stasiun BNI City terbilang mewah dan serasa di luar negeri (hahaha, lebay deh sen). Terdapat fasilitas ruang tunggu yang nyaman, dilengkapi escalator dan lift yang memudahkan kita meringkas langkah kaki serta sangat bermanfaat untuk difabel.
Beberapa aktivitas yang gw temui di sekitar KA Bandara :
Saat masuk kedalam kereta, kita dibebaskan memilih tempat duduk. namun tak perlu khawatir, ada tempat duduk khusus yang disediakan untuk difabel dan lansia. Terdapat fasilitas lain di dalam kereta seperti tersedianya toilet, space untuk menaruh koper, USB port di setiap bangku serta ruangan yang dilengkapi AC. Oya, jarak setiap bangku juga lumayan renggang, jadi kereta ini sungguh rasa kelas eksekutif.
Saat masih uci coba kemarin, KA Bandara baru melayani 3 rute stasiun saja, yaitu Stasiun BNI city, Stasiun Batu Ceper dan Stasiun Bandara Soetta. Katanya sih nanti KA Bandara akan melayani 5 stasiun di tambah dengan Stasiun Manggarai dan Stasiun Duri.
Tiba, di Stasiun Soetta, tak lengkap rasanya jika kita tak mencoba fasilitas SkyTrain yang disediakan bandara untuk mengantarkan kita ke setiap terminal keberangkatan dari terminal 1, terminal 2 dan terminal 3.
Untuk kamu yang ingin mencoba KA Bandara, saat ini sudah berlaku tarif normal Rp. 70 ribu sejak di resmikan tanggal 02 Januari 2018 kemarin. Terbilang mahal atau tidaknya tarif tersebut, tergantung sudut pandang masing-masing penikmat transportasi. Tinggal kita saja yang memilih, ingin menggunakan KA bandara, kendaraan pribadi, taksi offline, taksi online, atau mungkin Damri. Setidaknya saat ini begitu banyak alternatif transportasi yang bisa kita gunakan untuk menuju Bandara.
Okedeh, sekian cerita kali ini. Sampai ketemu di cerita bernuansa selanjutnya. (cerita siang, Minggu, 31 Januari 2017)
Menikmati akhir pekan tak mesti harus berpergian ke mall, tempat wisata, atau mungkin berpergian ke luar kota. cukup mengulik hal-hal yang terlihat biasa oleh kebanyakan orang namun siapa sangka dapat kita sulap menjadi hal yang bernuansa.
Lokasi yang kali ini gw datangi jelas bukan tempat wisata. Karena lokasi ini sebenarnya adalah proyek pengembangan kawasan salah satu industri di Cikarang. "Lalu, apa yang membuat lokasi ini menarik ?".
![]() |
| lokasi ini dinamakan "pohon satu" |
Dari foto di atas terlihat ada pohon yang berdiri kokoh sendiri, sedangkan di sekelilingnya hanya hamparan tanah yang telah di uruk oleh petugas proyek. Lalu pertanyaan kembali muncul "kenapa gak diuruk sekalian ?."
![]() |
| "Dulunya, tanah di tempat gw berdiri ini sejajar dengan pohon satu, namun karena telah diuruk kami jadi harus turun ke bawah seperti yang ada pada foto" |
Menurut informasi dari salah satu petugas proyek, saat mesin pengeruk (Ekskavator) akan menggali tanah pada pohon ini, mesin ekskavator selalu saja tiba-tiba mati. Sedangkan saat menggali pohon-pohon yang lain mesin tetap bisa bekerja dengan normal. Sudah menggunakan beberapa mesin ekskavator respon tetap sama, mesin selalu saja mati. Sehingga saat ini petugas proyek membiarkan begitu saja sisa pohon tersebut.
![]() |
tekstur tanahnya unik, seperti organ jantung.
drone by : @tino_isdyarto
|
Kami diperbolehkan oleh petugas proyek untuk turun ke bawah melihat lebih dekat dan bermain-main di lokasi proyek ini. Karena gw anaknya instagramable banget ya, jadi menurut gw ini adalah tempat yang bernuansa. xixixixi
Untuk bisa menuju lokasi ini, hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit dari stasiun cikarang. Jalurnya masih tanah lembab gitu, jadi kalo malamnya habis hujan udah pasti kita akan belok-belokan tanah seperti yang kami alami saat kesini.
![]() |
| Foto tampak dari bawah |
![]() |
| Foto tampak dari atas |
Anyway, terimakasih @tino_isdyarto, @linggatuti_13, @dakbaong, @lulu_fn, @rani_rossaa dan @dwiaryardi yang mau dadakan diajak ngebolang sisi lain Cikarang. Sampai ketemu di cerita bernuansa selanjutnya. (cerita siang, Minggu, 12 November 2017)
Mencari sesuatu hal yang belum pernah di lewati selama tinggal di Jakarta adalah salah satu cara yang gw lakuin untuk mengisi kekosongan di akhir pekan. Melalui aplikasi google maps, gw menemukan salah satu lokasi yang lumayan membuat rasa penasaran untuk menyusuri daerah tersebut.
Lokasi yang dimaksud adalah kampung nelayan Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Dengan bermodalkan informasi dari google maps, seperti biasa gw mengajak beberapa teman untuk nyasar bareng ke tempat yang memang belum pernah kita ketahui sebelumnya.
Dari perkampungan ini kenyamanan sangat terasa saat berada di tengah anak-anak yang kami temui. Mulai dari yang bermain di pinggiran perahu, mencari kepiting, ikan, dan kerang, bahkan sampai ada yang berenang di rawa. "Bahagia itu benar sederhana" ketika di era Jakarta yang semakin modern dan di tengah tengah adanya pembangunan proyek, mereka tetap bisa menikmati sore bernuansa di masa kanak-kanak mereka. "kamipun ikut terbawa suasana melihat bahagia mereka".
Oya, Sebelum ke kampung nelayan, pastinya kami juga menyusuri beberapa tempat di sekitaran Marunda. misalnya saja di Marunda Makmur. Dimana pada lokasi ini terdapat banyak kolam tambak yang menjadi mata pencaharian warga di Marunda.
Saat rasa penasaran lebih tinggi dibanding rasa malu, kami pun berjalan ke salah satu pondokan di tengah-tengah kolam tambak dan meminta izin kepada Bapak si pemilik tambak untuk melihat lebih dekat dan menyusuri apa saja yang ada di lokasi ini.
Kalau mau disusuri lebih dalam lagi, sekitaran kampung nelayan Marunda juga terdapat tempat penjemuran ikan asin, pasar ikan, krematorium cilincing, dan beberapa tempat Ibadah bersejarah seperti Vihara Lalitavistara, Pura Segara, dan Mesjid Al Alam.
Buat kamu yang ingin kesini, cek lokasinya di Google maps ya. search aja Marunda :)
Anyway, terimakasih @agushrmwn04, @sasmulya, @hanifah_ramadhani, dan @farih_seta_aji yang mau dadakan diajak ngebolang sisi lain Jakarta. Sampai ketemu di sore-sore bernuansa selanjutnya. (cerita sore, Jumat, 01 Desember 2017)


























































